Semburat jingga menggantung diujung mega.
Redakan gelisah dalam suasana hati.
Rebahkan arah tancapkan tujuan.
Ku jaga nafasmu tetap di nadiku.
Hingga kau sadari artiku sendiri ..
Kusebut namamu dalam tanya.
Sanggupkah kau merasa ?
Tentang beban ini ?
Tentang beban yang beratkan langkah ?
Tentang kabut yang halangi pandangku dari indahmu ??
Sorot matamu siratkan letih.
Tlah kau panggul sendiri.
Lepaskanlah, sayang..
Buanglah semua impian, dan rebahkan angan.
Dalam hangat yang merangkul dunia,
Duniamu.
Duniaku.
Dunia kita.
Bersama . .
Serangkai kata yang ku ingin kau ucapkan.
Tapi mungkin tak pernah akan ..
Hening lama . .
Hingga,
suatu senja, kutatap jingga menggantung diujung mega.
Menghiasi cakrawala waktu.
Dan bibirku pun berujar,
"pulanglah, kembalilah, dan tetaplah disini . . . "
Redakan gelisah dalam suasana hati.
Rebahkan arah tancapkan tujuan.
Ku jaga nafasmu tetap di nadiku.
Hingga kau sadari artiku sendiri ..
Kusebut namamu dalam tanya.
Sanggupkah kau merasa ?
Tentang beban ini ?
Tentang beban yang beratkan langkah ?
Tentang kabut yang halangi pandangku dari indahmu ??
Sorot matamu siratkan letih.
Tlah kau panggul sendiri.
Lepaskanlah, sayang..
Buanglah semua impian, dan rebahkan angan.
Dalam hangat yang merangkul dunia,
Duniamu.
Duniaku.
Dunia kita.
Bersama . .
Serangkai kata yang ku ingin kau ucapkan.
Tapi mungkin tak pernah akan ..
Hening lama . .
Hingga,
suatu senja, kutatap jingga menggantung diujung mega.
Menghiasi cakrawala waktu.
Dan bibirku pun berujar,
"pulanglah, kembalilah, dan tetaplah disini . . . "

Tidak ada komentar:
Posting Komentar